Mengapa Diperlukan Ajaran Sosial Gereja?

Kita bisa melihat lebih jelas posisi ajaran sosial dalam Gereja lewat tulisan Paus Yohanes Paulus II dalam Solicitudo Rei Socialis (disingkat SRS),

“…Gereja memiliki sesuatu untuk dikatakan pada masa kini…(yaitu) tentang kodrat, kondisi, persyaratan dan tujuan otentik pembangunan, dan juga tentang hambatan-hambatan yang akan dihadapi. Dengan melakukan itu Gereja melaksanakan misi pewartaan Injilnya, karena Gereja menawarkan sumbangan bagi solusi persoalan pembangunan yang mendesak saat Gereja mewartakan kebenaran tentang Kristus, tentang dirinya, dan tentang manusia, dengan menerapkan kebenaran itu pada suatu situasi konkret. Sebagai sarana untuk meraih tujuan tersebut, Gereja menggunakan ajaran sosialnya. Dalam situasi yang sulit jaman ini, sebuah kesadaran yang lebih pasti dan penyebaran yang lebih luas dari prinsip-prinsip refleksi, kriteria untuk pertimbangan, dan petunjuk bagi aksi yang ditawarkan oleh ajaran Gereja akan menjadi bantuan berguna dalam mempromosikan definisi yang benar tentang masalah-masalah yang dihadapi dan solusi terbaiknya.” (SRS art. 41).

Kutipan dari Solicitudo Rei Socialis di atas menunjukkan pentingnya ajaran sosial bagi Gereja. Ajaran sosial adalah sarana Gereja dalam melaksanakan misinya. Karena itu, ajaran sosial merupakan bagian tak terpisahkan dari misi Gereja. Ketika berhadapan dengan persoalan-persoalan dunia dan kemanusiaan, ajaran sosial Gereja menjadi alat Gereja untuk menghadirkan dirinya. Namun, ajaran sosial ini bukan hanya untuk kepentingan misi Gereja. Ajaran ini ada untuk kepentingan perkembangan manusia dan dunia. Di poin inilah kehadiran Gereja bagi dunia juga menemukan maknanya.

Peter Henriot SJ (2003) menunjukkan tiga poin mengenai pentingnya ajaran sosial bagi Gereja sendiri. Tiga poin tersebut adalah membimbing hati nurani personal, mengarahkan peranan publik Gereja, dan mempengaruhi struktur-struktur masyarakat. Henriot menyebut ketiganya sebagai peran personal, eklesial, dan kemasyarakatan.

Ajaran sosial Gereja membantu menentukan apa yang harus dilakukan secara personal oleh pribadi-pribadi kristen dalam menjalani kehidupan kristiani yang baik. Misalnya, jika dia adalah seorang pengusaha, ajaran sosial Gereja akan membimbingnya untuk menentukan upah yang adil bagi para pekerjanya. Sebaliknya, bagi seorang buruh atau pekerja, dia akan belajar dari ajaran sosial Gereja mengenai kewajiban-kewajiban untuk bersikap jujur, bertanggung jawab, dan kerja keras.

Sebagai bagian dari misinya, Gereja mempunyai peranan besar dalam kesejahteraan manusia dan masyarakat di segala dimensinya (sosial, politik, budaya, ekonomi, dsb.). Tugas Gereja adalah menunjukkan bagaimana semua aspek itu bisa sinkron dalam mengusahakan agar perkembangan manusia dan dunia menjadi maksimal. Ajaran sosial menjadi kacamata Gereja dalam mendukung kebenaran, mengutuk ketidakadilan, dan mempromosikan perubahan positif bagi manusia. Nota Pastoral KWI 2004, Keadaban Publik: Menuju Habitus Baru Bangsa, misalnya, bisa menjadi contoh mengenai bagaimana ajaran sosial membantu peran publik Gereja Indonesia.

Secara garis besar, masyarakat memiliki struktur-struktur ekonomi, politik, dan budaya. Melalui ajaran sosialnya, Gereja bisa menawarkan norma atau prinsip-prinsip dasar untuk mengevaluasi kebijakan pemerintah tentang labor market flexibility, misalnya, atau mendukung gerakan kampanye pendidikan untuk masa depan anak, dan sebagainya. Peranan Gereja dalam poin ini adalah mengusahakan dan mendorong agar struktur-struktur dalam masyarakat bisa menciptakan kondisi yang memfasilitasi perkembangan setiap pribadi warganya.

Sekarang, bagaimana kaitan iman dengan kehidupan sekular sehari-hari? Dalam hal ini, ajaran sosial Gereja – sebagai refleksi teologis Gereja tentang hakikat manusia dalam kehidupan bermasyarakat di dunia – menjadi landasan rasional bagi Gereja sendiri untuk hadir di tengah dunia. Pertanyaan sekarang adalah bagaimana hal itu dijalankan, apa prinsip-prinsip dasar dalam mencermati dan merespons permasalahan sekitar manusia dan bermasyarakatnya, dst.

Catatan:

Sollicitudo Rei Socialis berarti keprihatinan akan masalah-masalah sosial, ditulis oleh Paus Yohanes Paulus II, diterbitkan pada 30 Desember 1987. Ensiklik ini merupakan peringatan 20 tahun terbitnya ensiklik Populorum Progressio (artinya perkembangan bangsa-bangsa) oleh Paus Paulus VI pada tahun 1967.

Referensi

Henriot, Peter (2003). “Why do We have the Church’s Social Teaching?”
http://www.jctr.org.zm/publications/whycst.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s