Prinsip Solidaritas

Semua manusia – walau berbeda bangsa, suku, ras, ideologi, tingkatan ekonomi, pendidikan, dll. – adalah satu keluarga. Inilah ide dasar yang melandasi solidaritas. Ide tersebut mengalir dari martabat yang sama, yang dimiliki oleh setiap manusia, yakni citra Allah. Martabat yang sama itu menuntut setiap orang untuk membangun kehidupan bersama yang bisa dinikmati oleh semua manusia dan bisa mengembangkan setiap pribadi. Dengan kata lain, dengan prinsip solidaritas, setiap manusia diajak untuk membangun kesejahteraan umum (lihat pembahasan tentang Prinsip Martabat Manusia dan Prinsip Kesejahteraan Umum).

Sekarang, bagaimana ide tersebut mau diwujudkan? Dalam ensiklik Solicitudo Rei Socialis (juga dalam dua ensiklik sosialnya yang lain, Laborem Exercens dan Centesimus Annus), Paus Yohanes Paulus II menyebut solidaritas sebagai keutamaan hakiki bagi kehidupan sosial. Paus menjelaskan apa yang dimaksud dengan solidaritas,

“Solidaritas bukan perasaan belas kasihan yang tidak jelas atau kesedihan yang dangkal terhadap kemalangan begitu banyak orang…. Sebaliknya, solidaritas adalah ketetapan hati yang mantap dan tekun untuk meng-komitment-kan diri pada kesejahteraan umum, yaitu pada kebaikan semua orang dan setiap individu….” (SRS art. 38).

Dari kutipan di atas menjadi jelas bahwa solidaritas tidak sama dengan perasaan jatuh kasihan ketika melihat, mendengar, ataupun membaca tentang kemalangan orang lain. Sebaliknya, solidaritas adalah sebuah komitmen, sebuah tekad yang tetap dan terus-menerus untuk mengusahakan kebaikan bagi setiap orang.

Setiap komitmen dan tekad bermuara pada aksi. Kita ingat makna kesejahteraan umum sebagai kondisi yang diciptakan agar setiap individu dan kelompok dapat memenuhi kebutuhan mereka dan mengembangkan potensi. Paus sangat menekankan hubungan antara prinsip solidaritas ini dengan prinsip kesejahteraan umum. Dalam konteks ini, solidaritas adalah komitmen yang berujung pada aksi, dan aksi tersebut adalah membangun kondisi yang memungkinkan setiap warga masyarakat berkembang dan memenuhi kebutuhannya.

Masih dalam ensiklik yang sama, Solicitudo Rei Socialis (SRS), Paus menjelaskan lebih lanjut,

“Pelaksanaan solidaritas dalam setiap masyarakat menjadi valid bila setiap warganya saling mengakui sesamanya sebagai pribadi. Mereka yang lebih berpengaruh, karena memiliki bagian yang lebih besar dalam hal harta dan pelayanan umum, seharusnya merasa bertanggung jawab terhadap mereka yang lebih lemah dan siap untuk berbagi semua yang dimiliki dengan mereka. Dengan semangat solidaritas, mereka yang lemah seharusnya tidak mengambil sikap pasif semata-mata atau sikap yang destruktif terhadap tatanan sosial, namun…melaksanakan apa yang bisa mereka lakukan bagi kebaikan semua. Kelompok-kelompok tengah seharusnya juga tidak mendesakkan kepentingan mereka sendiri, melainkan menghormati kepentingan kelompok atau orang lain.” (SRS art. 39).

Kutipan dari tulisan Paus di atas menekankan bahwa kunci solidaritas terletak pada pengakuan bahwa orang lain adalah manusia berpribadi. Pengakuan ini sebenarnya mengandung pengertian bahwa sebagai pribadi, setiap orang berhak dan harus berkembang seperti dirinya. Perkembangan pribadi terlaksana bukan sebagai individu yang berdiri sendiri, terpisah dari orang lain (lihat gagasan tentang dimensi sosial manusia dalam Prinsip Martabat Manusia), namun mengandaikan orang lain. Ada ketergantungan. Kesadaran bahwa dirinya tergantung pada orang lain akan membentuk sikap dan perilaku setia kawan (bdk. Soetoprawiro, 2003, 143). Tetapi, sikap dan perilaku setia kawan tersebut tidak terarah melulu kepada kawan-kawannya atau kelompoknya, melainkan diarahkan untuk bisa menciptakan kesempatan berkembang bagi semakin banyak orang. Dalam pengertian ini, solidaritas lalu memberi tekanan sosial atau dimensi sosial pada cinta kepada sesama.

Kutipan dari Solicitudo Rei Socialis artikel 39 di atas menegaskan bahwa solidaritas tidak hanya dituntut dari mereka yang kaya, kuat, dan berlebihan fasilitas. Mereka yang lemah dan miskin juga bukan menjadi sekedar “sasaran” solidaritas dari mereka yang kaya. Perlu kita ingat bahwa walaupun merupakan perwujudan dimensi sosial dan sifat kesaling-tergantungan manusia, solidaritas tidak ditujukan kepada manusia. Solidaritas, seperti yang telah dikutip dari artikel 38 di atas, ditujukan kepada kesejahteraan umum. Karena itu, solidaritas berlaku bagi setiap orang dan kelompok, baik kaya maupun miskin. Mereka yang miskin pun tetap dituntut, sesuai dengan kemampuan mereka, untuk terlibat aktif bagi kebaikan sesama dan kesejahteraan bersama.

Pada kenyataannya, memang bukan hanya kita, yang punya harta dan posisi dalam masyarakat, yang mampu menyumbang untuk kesejahteraan umum. Tukang sapu jalan membangun kesejahteraan umum dengan membuat jalan bersih, nyaman, tidak ada kerikil yang membahayakan di tengah jalan, dsb. Sumbangan untuk kesejahteraan umum dari para tukang becak juga luar biasa dan khas. Mereka menyediakan sarana angkutan murah meriah di daerah pelosok kota, yang mungkin tidak terjangkau oleh angkutan umum bermotor.

Pendek kata, seperti yang telah dijelaskan ketika membahas Prinsip Kesejahteraan Umum, semua orang dengan kemampuan masing-masing berperan dalam menyumbangkan kesejahteraan umum. Tetapi, solidaritas dibutuhkan agar mereka bukan hanya menyumbangkan sesuatu bagi kesejahteraan umum. Dengan aksi-aksi solidaritas, diharapkan orang-orang kecil ini bisa mendapatkan lebih banyak manfaat dari kesejahteraan umum supaya bisa berkembang maksimal sebagai manusia.

Sebagai penutup, kutipan dari Paus Yohanes Paulus II di bawah ini mengingatkan bahwa kita hidup bersama dengan sesama, dengan manusia, bukan dengan gerombolan yang bisa dikorbankan dan dimanfaatkan demi keuntungan kita sendiri,

“Solidaritas membantu kita melihat sesama – baik pribadi, orang-orang, maupun bangsa – bukan sebagai alat yang memiliki kemampuan untuk bekerja dan mempunyai kekuatan fisik untuk dieksploitasi dengan biaya murah dan kemudian dibuang setelah tidak dibutuhkan, melainkan sebagai sesama, rekan (bdk. Kej 2:18-20) untuk berbagi pada level yang sederajat dengan kita sendiri,….” (SRS art. 39).

Referensi

Soetoprawiro, Koerniatmanto (2003). Bukan Kapitalisme, Bukan Sosialisme: Memahami Keterlibatan Sosial Gereja. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

One thought on “Prinsip Solidaritas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s