Prinsip Preferential Option for the Poor and Vulnerable

Prinsip the option for the poor and vulnerable berarti mendahulukan kepentingan mereka yang miskin dan lemah.  Prinsip ini memiliki akarnya dalam Kitab Suci. Dalam Perjanjian Baru, teologi kenosis menyatakan pilihan Kristus sendiri kepada mereka yang miskin. Ia bukan hanya meninggalkan keallahanNya dan menjadi manusia miskin. Ia bahkan mengidentifikasikan diriNya dengan mereka yang miskin dan malang (bdk. Mat 25:40; EA art. 34). Kesadaran akan perutusanNya ke dunia ditunjukkan dalam Lukas, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” (Luk 4:16-19).

Paus Paulus VI dalam Octogesima Adveniens (biasa disingkat OA) mengajak kita untuk berkaca pada Injil, “Dalam mengajarkan cinta kasih, Injil mengajari kita untuk secara istimewa menghormati orang-orang miskin dan situasi khusus mereka di tengah masyarakat….” (OA art. 23). Dengan kata lain, prinsip ini mengalir dari “perintah radikal untuk mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri.” (EJA art. 87).

Para uskup Amerika Serikat, dalam sebuah surat pastoral berjudul Economic Justice for All (biasa disingkat EJA), mengatakan,

“Tujuan utama komitmen spesial kepada orang miskin ini adalah memungkinkan mereka berpartisipasi aktif dalam hidup bermasyarakat. Mereka diberdayakan untuk mampu berbagi dalam dan menyumbang bagi kesejahteraan umum. Karena itu, the option for the poor bukanlah slogan permusuhan yang mengadu satu kelompok atau kelas dengan kelompok atau kelas lain. Tetapi, prinsip tersebut menyatakan bahwa ketidakberdayaan kaum miskin melukai keseluruhan komunitas. Tingkat penderitaan mereka adalah ukuran sejauh mana kita telah menjadi sebuah komunitas sejati. Luka-luka itu hanya akan disembuhkan oleh solidaritas yang lebih besar dengan kaum miskin dan di antara kaum miskin sendiri.” (EJA art. 88).

Jika mencermati kutipan di atas, tampak jelas bahwa membantu orang miskin bukan hanya untuk melampiaskan rasa belas kasihan maupun berbagi sesuatu secara karitatif. Bukan karena dua hal tadi itu tidak baik. Tetapi, jelas dinyatakan bahwa komitmen kepada kaum miskin bertujuan membuat mereka berdaya. Artinya, mampu bangkit, sehingga kemudian bisa ambil bagian dalam membangun kesejahteraan umum. Prinsip ini memberi tujuan pada komitmen dan aktivitas-aktivitas membantu kaum miskin dan lemah.

Di lain pihak, prinsip ini juga memberi panduan dalam menentukan kelompok mana yang perlu diberi perhatian lebih dulu, agar partisipasi dalam kesejahteraan umum semakin merata. Kelompok yang dimaksud tersebut adalah mereka yang miskin, yang tidak bisa membantu diri mereka sendiri untuk dapat mengakses kesejahteraan umum.

Sebagaimana prinsip-prinsip yang lain, tujuan selalu diarahkan kepada partisipasi dalam kesejahteraan umum. Persisnya, tujuan dari prinsip the option for the poor and vulnerable adalah memberdayakan mereka yang berkekurangan untuk bisa berpartisipasi dalam kesejahteraan umum.

Sebenarnya, ujian moral paling dasar bagi sebuah masyarakat adalah sejauh mana anggota-anggotanya yang paling lemah diperlakukan. Maksudnya, bagaimana sikap-sikap para anggota dalam masyarakat, keputusan-keputusan, kebijakan-kebijakan, dan hubungan-hubungan ekonomi berdampak pada mereka yang paling lemah. Apabila kebijakan publik menguntungkan mereka yang paling lemah, kelompok-kelompok lain yang lebih beruntung paling sedikit tidak akan dirugikan. Tetapi, hal ini tidak berlaku sebaliknya.

Cukup sering kita mendengar dan melihat bagaimana sebuah proyek pembangunan menguntungkan sekelompok orang dan merugikan berbagai pihak yang lain. Misalnya pembangunan jalan tol. Dibutuhkan lahan yang cukup luas dan panjang. Akibatnya sawah dan rumah harus digusur. Ketika jalan tol sudah jadi, siapa yang bisa mengaksesnya? Bukankah hanya mereka yang memiliki mobil-mobil pribadi? Sementara dengan dibangunnya jalan tol, kemacetan mungkin akan terurai, tapi akan bertahan sampai kapan? Yang lebih tragis, warga yang tinggal di sekitar jalan tol sama sekali tidak bisa mengakses selama tidak memiliki mobil sendiri. Padahal mereka telah merelakan tanahnya dibeli untuk pembangunan tol.

The option for the poor adalah sebuah perspektif yang menguji keputusan-keputusan pribadi, kebijakan lembaga-lembaga publik maupun privat, dan hubungan-hubungan ekonomi dengan melihat bagaimana kaum paling miskin mengalami akibatnya (bdk. EJA art. 87). Dalam contoh di atas, dengan prinsip ini kita bisa menganalisa bagaimana dampak pembangunan jalan tol bagi kehidupan mereka yang berada di sekitarnya. Jika mereka dibiarkan terkena dampak tanpa resolusi untuk memperbaiki kehidupan mereka, proyek pembangunan jalan tol pantas diberi label “pembangunan yang tidak adil”.

The option for the poor and vulnerable tidak dapat dipandang sebagai tindakan mengabaikan orang kaya dan kemudian melulu memperhatikan kaum miskin. Gereja ada bagi semua orang, apa pun status sosialnya. Prinsip ini tidak bersifat eksklusif (memilih yang satu dengan mengabaikan yang lain), melainkan preferensial (memberi prioritas khusus, lihat SRS art. 42). Hanya memberi perhatian kepada kelompok berkekurangan dan mengabaikan mereka yang berkecukupan adalah tindakan eksklusif. Bukan itu yang dimaksudkan oleh Ajaran Sosial Gereja dengan prinsip ini (lihat Curran, 2007, hlm 272-274).

Cara berpikirnya adalah seperti ini. Dalam situasi di mana ada ketidakadilan, penindasan, dan struktur yang tidak memberi ruang berkembang bagi kelompok menengah ke bawah, maka yang paling dikorbankan dan tidak dapat membantu diri sendiri adalah kelompok kaum miskin dan lemah. Mereka yang miskin dan tak berdayalah yang terkena dampak paling berat dan karenanya meminta perhatian utama. Kaum miskin tidak mempunyai apa pun untuk melindungi dan membela diri sendiri. Mengabaikan mereka ini akan berarti “menjadi seperti orang kaya yang bersikap seolah-olah tidak melihat bahwa Lazarus terkapar di gerbang rumahnya (bdk. Luk 16:19-31).” (SRS art. 42). Sementara, golongan kaya masih memiliki cara-cara untuk membela diri, sehingga tidak terlalu membutuhkan bantuan dibandingkan dengan mereka yang miskin.

Dalam situasi seperti itulah Gereja perlu mengambil sikap dengan memberi prioritas kepada kelompok-kelompok atau orang-orang yang paling dikorbankan dan tidak dapat membantu diri sendiri. Bahkan dalam pelaksanaannya, Gereja harus tetap menumbuhkan solidaritas dan melibatkan kelompok-kelompok lain yang lebih beruntung. Maka, jelas bahwa the option for the poor bukan prinsip eksklusif, yang meniadakan atau mengabaikan kelompok lain. Ini adalah sebuah pilihan prioritas (preferential). Karena itu, prinsip ini lengkapnya adalah preferential option for the poor and vulnerable. Mereka yang paling lemah dan malang, yang tidak mampu membantu diri sendiri, dipilih untuk diprioritaskan (bdk. EJA art. 86 & 94). Komunitas yang sehat hanya dapat dicapai jika para anggotanya memberikan perhatian khusus kepada mereka yang memiliki kebutuhan khusus, yakni orang-orang yang miskin dan yang berada di pinggiran masyarakat.

Karena pilihannya adalah membantu mereka yang tidak dapat membantu diri sendiri, prinsip ini bertujuan memberdayakan mereka dalam hidup bermasyarakat. Keputusan dan kebijakan publik harus dapat membuat orang miskin mampu membantu diri sendiri (bdk. EJA art. 24). Tetapi, prinsip ini tidak hanya berkenaan dengan tindakan dan sikap kepada kaum miskin. Paus Yohanes Paulus II menekankan bahwa the option for the poor sekaligus adalah perwujudan dari “tanggung jawab sosial, gaya hidup, dan keputusan-keputusan yang kita buat berhubungan dengan kepemilikan dan penggunaan harta benda kita.” (SRS art. 42).

Referensi:

Curran, Charles E. (2007). Buruh, Petani, dan Perang Nuklir: Ajaran Sosial Gereja, 1891 – Sekarang. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s